Saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan pendidikan
suatu negera ditentukan oleh budaya literasi peserta didiknya, karena kemampuan
siswa/i berliterasi merupakan modal awal dalam mencapai kesuksesan memahami pelajaran.
Salah satu indikator keberhasilan pembelajaran adalah semakin baiknya tingkat
literasi siswa yang ditandai dengan semakin baiknya daya serap siswa dalam
memahami pengetahuan yang diperoleh dalam suatu proses pembelajaran.
Faktanya dalam konteks internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV) yang diuji oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2011 menunjukkan Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 458, dibawah skor rata-rata yaitu 500. Selain itu, pada tahun 2012, dalam sebuah uji literasi yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), peserta didik Indonesia menempati posisi terburuk kedua dengan skor 396 dari 65 negara yang berpartisipasi. Singkatnya, data PIRLS dan PISA menujukkan dengan jelas bahwa kompetensi peserta didik Indonesia terutama yang berkenaan dengan keterampilan memahami bacaan tergolong sangat rendah.
Melirik pada kemampuan literasi peserta didik kita yang masih dibawah rata-rata, tentunya kemampuan literasi berbanding lurus dengan kemampuan membaca peserta didik. Kemampuan anak dalam membaca pada usia dini tentu akan mempengaruhi kemampuan literasi anak.
Membaca dan Literasi
(Rahim: 2011) membaca adalah suatu proses yang tidak
hanya sekedar mengucapkan tulisan saja, akan tetapi juga melibatkan berbagai
aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca juga
merupakan salah satu keterampilan untuk mendapatkan informasi yang termasuk isi
dan pemahaman membaca. Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat penting
dimiliki oleh seorang siswa.
Anderson (dalam Basyiroh: 2017) mengatakan bahwa
“membaca sebagai suatu proses yang memahami makna suatu tulisan“. Proses yang
dialami dalam membaca adalah berupaya penyajian kembali dan penafsiran suatu
kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, fase, kalimat dan
wacana serta menghubungkanya dengan bunyi dan maknanya.
Menurut Zubaidah (dalam Ulfah: 2017) menyatakan
bahwa pengertian membaca permulaan atau membaca awal lebih menekankan pada
pengenalan dan pengucapan lambang-lambang bunyi yang berupa huruf, kata dan
kalimat dalam bentuk sederhana.
Sehingga disimpulkan bahwa membaca merupakan
kegiatan pengucapan lambang-lambang huruf yang melibatkan aktivitas visual,
berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.
Literasi berasal dari bahasa Latin, yaitu literatus,
artinya ditandai dengan huruf, melek huruf atau berpendidikan (Toharudin:
2011). Definisi lama literasi adalah kemampuan membaca dan menulis tetapi saat
ini istilah literasi menjadi semakin berkembang dalam pengertiannya. Kini ada
ungkapan literasi sains, literasi komputer, literasi informasi, literasi
virtual, literasi matematika dan lainlain. Menurut (Al-wasilah: 2012) literasi
adalah memahami, melibatkan, menggunakan, menganalisis dan mentransformasi
teks.
Istilah “literasi” memiliki makna meluas dari waktu
ke waktu. Menurut Aronoff (dalam Musfiroh: 2016) literasi sekarang tidak hanya
diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca tetapi “… has instead come to be considered synonymous with its hoped-for
consequences.” Kini, literasi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan
membaca dan menulis dasar kepemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks
tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan
dan tertulis, dari dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial
pendidikan barat.
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa literasi adalah
kemampuan membaca dan menulis untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan hubungan
atau keterkaitan membaca dengan literasi sangatlah erat. Kegiatan membaca belum
tentu kegiatan literasi, namun kegiatan literasi sudah pasti kegiatan membaca.
Karena kegiatan literasi melibatkan kemampuan membaca didalamnya.
Kesulitan Siswa Dalam Membaca
Kesulitan membaca adalah kondisi tidak memuaskan
yang berhubungan dengan kemampuan membaca siswa (Jamaris: 2015). Secara umum,
siswa yang mengalami kesulitan belajar mempunyai latar belakang yang
berbeda-beda, ada siswa yang sulit mengeja, dan ada pula yang belum lancar
membaca dalam satu paragraf. Kesulitan membaca permulaan sebagian besar dialami
siswa kelas rendah/awal, yaitu pada kelas I, II dan III. Dampak dari
permasalahan tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.
(Rafika: 2020) adapun kesulitan yang dialami siswa
dalam kegiatan membaca adalah:
1. Kesulitan
dalam mengenal huruf
Karakteristik kesulitan membaca pada indikator
mengenal huruf yaitu kesulitan mengidentifikasi huruf dan melakukan
penghilangan huruf. Penghilangan huruf yang dilakukan siswa sering terjadi di
akhir kata. Pernyataan tersebut selaras dengan pendapat (Abdurrahman: 2012)
yang mengatakan bahwa penghilangan huruf biasanya terjadi pada pertengahan atau
akhir kata. Selain itu siswa yang kesulitan membaca kata yang menggunakan huruf
diftong dikarenakan belum dapat mengenal huruf diftong.
2. Kesulitan
dalam mengeja
Kesulitan mengeja terlihat saat siswa terbata-bata
dalam mengeja kata atau kalimat yang menggunakan huruf diftong. Mengeja dengan
terbata-bata terjadi karena siswa ragu-ragu terhadap kemampuan membacanya. Hal
ini sependapat dengan yang dikemukakan (Abdurrahman: 2012) bahwa keraguan dalam
membaca sering disebabkan anak kurang mengenal huruf.
3. Kesulitan
melafalkan fonem
Kemampuan dalam pelafalan bunyi bahasa berkaitan
dengan kemampuan berbicara siswa. Diketahui bahwa kelemahan berbicara cadel
(pelo) menyebabkan siswa kesulitan melafalkan beberapa huruf dengan baik. Siswa
yang cadel (pelo) biasanya sulit dalam menyebutkan huruf-huruf seperti huruf
„d‟, „r‟, dan „s‟. Seperti yang dialami oleh siswa saat diminta membaca kata
“rajin” siswa membacanya “lajin”.
Cara Meningkatkan Budaya Literasi
Anak Usia SD
Banyak pakar pendidikan mengemukakan bahwa keberhasilan
pembelajaran ditandai dengan meningkatnya kemampuan literasi siswa. Untuk itu
Kemendikbud melalui Permendikud No. 23 Tahun 2015 menginisiasikan Gerakan
Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan
secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang
warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
(Septiana: 2020) Garakan Literasi Sekolah memiliki dua
tujuan yaitu tujuan umum dan khusus. Pada satu sisi, tujuan umum gerakan ini adalah
untuk menumbuh-kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem
literat sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi
pembelajar sepanjang hayat. Pada sisi lainnya, tujuan khusus gerakan ini yaitu
untuk:
1. Menumbuhkembangkan
budaya literasi di sekolah;
2. Meningkatkan
kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat;
3. Menjadikan
sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah
mampu mengelola pengetahuan; serta
4. Menjaga
keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi
berbagai strategi membaca.
(Septiana: 2020) Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan
di Sekolah Dasar memiliki tiga tahapan yaitu:
1. Tahapan
pembiasan, melalui penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca sebelum
pelajaran dimulai;
2. Tahapan
pengembangan, dengan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi
buku pengayaan; dan
3. Tahapan
pembelajaran, dengan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan
menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.
Gerakan ini dilakukan secara bertahap
dengan mempertimbangkan berbagai kesiapan. Adapun yang menyangkut kesiapan meliputi
kesiapan kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana
literasi), kesiapan warga sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen
masyarakat lainnya), dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi
publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah
Dasar setiap tahapan memiliki tujuan yang disesuaikan dengan jenjang baik SD Kelas
Rendah maupun SD Kelas Tinggi. Dalam tahap pembiasaan pada kelas rendah tujuan membaca
diarahkan untuk mengenali dan membuat inferensi, prediksi, terhadap gambar
dengan menggunkan media seperti buku cerita bergambar dan buku dengan teks sederhana
baik fiksi maupun non fiksi. Sedangkan, pada jenjang SD kelas tinggi objektif
dari kegiatan membaca untuk memahami isi bacaan dengan be rbagai strategi
seperti mengenali jenis teks, membuat inferensi, koneksi dengan pengalaman atau
teks lainnya dengan memanfaatkan berbagai sumber seperti buku cerita bergambar dan
buku novel pemula baik dalam bentuk cetak, digital, ataupun visual.
Selanjutnya pada tahapan pengembangan, untuk jenjang
SD kelas rendah tujuan membaca diarahkan untuk dapat mengeja kalimat dan memahami
kata-kata dalam cerita sederhana dan membaca gambar untuk memahami alur cerita
dengan menggunkan buku cerita bergambar berukuran besar (big book). Sementara itu, untuk jenjang kelas SD Tinggi tujuan membaca
diarakan untuk membaca cerita dengan fasih, menggunakan konteks kalimat untuk memaknai
kata-kata baru, serta memahami cerita fantasi rakyat dalam konteks budaya yang spesifik
dengan menggunakan media berupa buku cerita berilustrasi atau bergambar, buku
besar, dan novel sederhana.
Terakhir, pada tahap pembelajaran jenjang kemampuan membaca
di SD dibagi menjadi empat yaitu pembaca awal (emergent) SD kelas rendah, pembaca pemula sebagian SD kelas rendah dan
tinggi, pembaca madya SD kelas tinggi, dan pembaca madya SD kelas tinggi.
1. Pada
jenjang pembaca awal (emergent) SD
kelas rendah kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa yaitu:
a. dapat
mengidentifikasi bunyi huruf-huruf;
b. memahami
arti intonasi ketika dibacakan cerita;
c. memahami
sebagian kata-kata;
d. menggunakan
ilustrasi untuk memahami cerita; dan
e. dapat
menjawab sebagian pertanyaan terkait cerita yang telah dibacakan.
2. Pada
jenjang pembaca pemula sebagi an SD kelas rendah dan tinggi kemampuan membaca
yang harus dimiliki siswa antara lain:
a. dapat
mengeja sebagian kombinasi huruf-huruf (konsonan+vokal) secara mandiri;
b. memahami
hampir sebagian besar kata-kata yang dibaca dengan atau tanpa bantuan;
c. memahami
fungsi tanda baca titik, koma dan tanya;
d. mampu
menggunakan ilustrasi untuk memahami bacaan; serta
e. dapat
menjawab hampir semua pertanyaan terkait bacaan.
3. Pada
jenjang pembaca madya SD kelas tinggi kemampuan membaca yang harus dimiliki
siswa antara lain:
a. dapat
mengeja semua kombinasi huruf-huruf (konsnan vokal, vokal konsonan, konsonan
konsonan vokal) dengan baik;
b. memahami
sebagian besar kata-kata tanpa bantuan;
c. memahami
fungsi hampir semua tanda baca; titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan tanda
kutip;
d. membaca
dengan intonasi yang sesuai dengan tanda baca (koma titik, tand a tanya, dan
tanda seru).
4. Pada
jenjang pembaca madya SD kelas tinggi, kemampuan membaca yang harus dimiliki
siswa antara lain:
a. memahami
arti kalimat dengan menggunakan pemahaman terhadap kata-kata yang telah
diketahui;
b. menjawab
semua pertanyaan terkait bacaan;
c. menjelaskan
ulang informasi umum dan sebagian informasi spesifik terkait bacaan;
d. mampu
melakukan inferensi dan prediksi terkait isi bacaan; dan
e. menunjukkan minat terhadap bacaan
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis,
dan Remediasinya. Jakarta: Rineka Cipta
Al-Wasilah, A Chaedar. 2012. Pokoknya Rekayasa Literasi. Bandung : PT
Kiblat Buku Utama.
Basyiroh, Iis. (2017). Program Pengembangan Kemampuan Literasi Anak
Usia Dini. Tunas Siliwangi. 3(2): 120-134
Jamaris, Martini. 2015. Kesulitan Belajar: Perspektif, Asesmen, dan
Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini dan Usia Sekolah. Bogor: Ghalia
Indonesia
Musfiroh, Tadkiroatun, dan Beniati
Lestyorini. (2016). Konstruk Kompetensi
Literasi Untuk Siswa Sekolah Dasar. LITERA. 15(1): 1-12
Rafika, Nurma, dkk. (2020). Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada
Siswa Sekolah Dasar. Prosiding Konferensi Ilmiah Dasar. 2(1): 301-306
Rahim, Farida. 2011. Pembelajaran Membaca di Sekolahi Dasar.
Jakarta: Bumi Aksara.
Septiana, Tri Ilma, dan Busthomi
Ibrohim. (2020). Berbagai Kegiatan
Membaca Untuk Memicu Budaya Literasi di Sekolah Dasar. Primary: Jurnal Keilmuan
dan Kependidikan Dasar. 12(1): 41-54
Toharudin, dkk. 2011. Membangun Literasi Sains Peserta Didik.
Bandung : Humaniora.
Ulfah, Azra Aulia, dan Elva Rahmah.
(2017). Pembuatan dan Pemanfaatan Busy
Book Dalam Mempercepat Kemampuan Membaca Untuk Anak Usia Dini di PAUD Budi
Luhur Padang. Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan. 6(1): 28-37
👍👍
BalasHapus