Kamis, 15 Oktober 2020

Kemampuan Membaca Anak Usia SD

Saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan pendidikan suatu negera ditentukan oleh budaya literasi peserta didiknya, karena kemampuan siswa/i berliterasi merupakan modal awal dalam mencapai kesuksesan memahami pelajaran. Salah satu indikator keberhasilan pembelajaran adalah semakin baiknya tingkat literasi siswa yang ditandai dengan semakin baiknya daya serap siswa dalam memahami pengetahuan yang diperoleh dalam suatu proses pembelajaran.

Faktanya dalam konteks internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV) yang diuji oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2011 menunjukkan Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 458, dibawah skor rata-rata yaitu 500. Selain itu, pada tahun 2012, dalam sebuah uji literasi yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), peserta didik Indonesia menempati posisi terburuk kedua dengan skor 396 dari 65 negara yang berpartisipasi. Singkatnya, data PIRLS dan PISA menujukkan dengan jelas bahwa kompetensi peserta didik Indonesia terutama yang berkenaan dengan keterampilan memahami bacaan tergolong sangat rendah.

Melirik pada kemampuan literasi peserta didik kita yang masih dibawah rata-rata, tentunya kemampuan literasi berbanding lurus dengan kemampuan membaca peserta didik. Kemampuan anak dalam membaca pada usia dini tentu akan mempengaruhi kemampuan literasi anak.

        Membaca dan Literasi

(Rahim: 2011) membaca adalah suatu proses yang tidak hanya sekedar mengucapkan tulisan saja, akan tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca juga merupakan salah satu keterampilan untuk mendapatkan informasi yang termasuk isi dan pemahaman membaca. Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang siswa.

Anderson (dalam Basyiroh: 2017) mengatakan bahwa “membaca sebagai suatu proses yang memahami makna suatu tulisan“. Proses yang dialami dalam membaca adalah berupaya penyajian kembali dan penafsiran suatu kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, fase, kalimat dan wacana serta menghubungkanya dengan bunyi dan maknanya.

Menurut Zubaidah (dalam Ulfah: 2017) menyatakan bahwa pengertian membaca permulaan atau membaca awal lebih menekankan pada pengenalan dan pengucapan lambang-lambang bunyi yang berupa huruf, kata dan kalimat dalam bentuk sederhana.

Sehingga disimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan pengucapan lambang-lambang huruf yang melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.

Literasi berasal dari bahasa Latin, yaitu literatus, artinya ditandai dengan huruf, melek huruf atau berpendidikan (Toharudin: 2011). Definisi lama literasi adalah kemampuan membaca dan menulis tetapi saat ini istilah literasi menjadi semakin berkembang dalam pengertiannya. Kini ada ungkapan literasi sains, literasi komputer, literasi informasi, literasi virtual, literasi matematika dan lainlain. Menurut (Al-wasilah: 2012) literasi adalah memahami, melibatkan, menggunakan, menganalisis dan mentransformasi teks.

Istilah “literasi” memiliki makna meluas dari waktu ke waktu. Menurut Aronoff (dalam Musfiroh: 2016) literasi sekarang tidak hanya diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca tetapi “… has instead come to be considered synonymous with its hoped-for consequences.” Kini, literasi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan membaca dan menulis dasar kepemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan dan tertulis, dari dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial pendidikan barat.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan hubungan atau keterkaitan membaca dengan literasi sangatlah erat. Kegiatan membaca belum tentu kegiatan literasi, namun kegiatan literasi sudah pasti kegiatan membaca. Karena kegiatan literasi melibatkan kemampuan membaca didalamnya.

        Kesulitan Siswa Dalam Membaca

Kesulitan membaca adalah kondisi tidak memuaskan yang berhubungan dengan kemampuan membaca siswa (Jamaris: 2015). Secara umum, siswa yang mengalami kesulitan belajar mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, ada siswa yang sulit mengeja, dan ada pula yang belum lancar membaca dalam satu paragraf. Kesulitan membaca permulaan sebagian besar dialami siswa kelas rendah/awal, yaitu pada kelas I, II dan III. Dampak dari permasalahan tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.

(Rafika: 2020) adapun kesulitan yang dialami siswa dalam kegiatan membaca adalah:

1.      Kesulitan dalam mengenal huruf

Karakteristik kesulitan membaca pada indikator mengenal huruf yaitu kesulitan mengidentifikasi huruf dan melakukan penghilangan huruf. Penghilangan huruf yang dilakukan siswa sering terjadi di akhir kata. Pernyataan tersebut selaras dengan pendapat (Abdurrahman: 2012) yang mengatakan bahwa penghilangan huruf biasanya terjadi pada pertengahan atau akhir kata. Selain itu siswa yang kesulitan membaca kata yang menggunakan huruf diftong dikarenakan belum dapat mengenal huruf diftong.

2.      Kesulitan dalam mengeja

Kesulitan mengeja terlihat saat siswa terbata-bata dalam mengeja kata atau kalimat yang menggunakan huruf diftong. Mengeja dengan terbata-bata terjadi karena siswa ragu-ragu terhadap kemampuan membacanya. Hal ini sependapat dengan yang dikemukakan (Abdurrahman: 2012) bahwa keraguan dalam membaca sering disebabkan anak kurang mengenal huruf.

3.      Kesulitan melafalkan fonem

Kemampuan dalam pelafalan bunyi bahasa berkaitan dengan kemampuan berbicara siswa. Diketahui bahwa kelemahan berbicara cadel (pelo) menyebabkan siswa kesulitan melafalkan beberapa huruf dengan baik. Siswa yang cadel (pelo) biasanya sulit dalam menyebutkan huruf-huruf seperti huruf „d‟, „r‟, dan „s‟. Seperti yang dialami oleh siswa saat diminta membaca kata “rajin” siswa membacanya “lajin”.

        Cara Meningkatkan Budaya Literasi Anak Usia SD

Banyak pakar pendidikan mengemukakan bahwa keberhasilan pembelajaran ditandai dengan meningkatnya kemampuan literasi siswa. Untuk itu Kemendikbud melalui Permendikud No. 23 Tahun 2015 menginisiasikan Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

(Septiana: 2020) Garakan Literasi Sekolah memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan khusus. Pada satu sisi, tujuan umum gerakan ini adalah untuk menumbuh-kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literat sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pada sisi lainnya, tujuan khusus gerakan ini yaitu untuk:

1.      Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah;

2.      Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat;

3.      Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan; serta

4.      Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

(Septiana: 2020) Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan di Sekolah Dasar memiliki tiga tahapan yaitu:

1.      Tahapan pembiasan, melalui penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai;

2.      Tahapan pengembangan, dengan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan; dan

3.      Tahapan pembelajaran, dengan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Gerakan ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai kesiapan. Adapun yang menyangkut kesiapan meliputi kesiapan kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen masyarakat lainnya), dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).

Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar setiap tahapan memiliki tujuan yang disesuaikan dengan jenjang baik SD Kelas Rendah maupun SD Kelas Tinggi. Dalam tahap pembiasaan pada kelas rendah tujuan membaca diarahkan untuk mengenali dan membuat inferensi, prediksi, terhadap gambar dengan menggunkan media seperti buku cerita bergambar dan buku dengan teks sederhana baik fiksi maupun non fiksi. Sedangkan, pada jenjang SD kelas tinggi objektif dari kegiatan membaca untuk memahami isi bacaan dengan be rbagai strategi seperti mengenali jenis teks, membuat inferensi, koneksi dengan pengalaman atau teks lainnya dengan memanfaatkan berbagai sumber seperti buku cerita bergambar dan buku novel pemula baik dalam bentuk cetak, digital, ataupun visual.

Selanjutnya pada tahapan pengembangan, untuk jenjang SD kelas rendah tujuan membaca diarahkan untuk dapat mengeja kalimat dan memahami kata-kata dalam cerita sederhana dan membaca gambar untuk memahami alur cerita dengan menggunkan buku cerita bergambar berukuran besar (big book). Sementara itu, untuk jenjang kelas SD Tinggi tujuan membaca diarakan untuk membaca cerita dengan fasih, menggunakan konteks kalimat untuk memaknai kata-kata baru, serta memahami cerita fantasi rakyat dalam konteks budaya yang spesifik dengan menggunakan media berupa buku cerita berilustrasi atau bergambar, buku besar, dan novel sederhana.

Terakhir, pada tahap pembelajaran jenjang kemampuan membaca di SD dibagi menjadi empat yaitu pembaca awal (emergent) SD kelas rendah, pembaca pemula sebagian SD kelas rendah dan tinggi, pembaca madya SD kelas tinggi, dan pembaca madya SD kelas tinggi.

1.      Pada jenjang pembaca awal (emergent) SD kelas rendah kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa yaitu:

a.       dapat mengidentifikasi bunyi huruf-huruf;

b.      memahami arti intonasi ketika dibacakan cerita;

c.       memahami sebagian kata-kata;

d.      menggunakan ilustrasi untuk memahami cerita; dan

e.       dapat menjawab sebagian pertanyaan terkait cerita yang telah dibacakan.

2.      Pada jenjang pembaca pemula sebagi an SD kelas rendah dan tinggi kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       dapat mengeja sebagian kombinasi huruf-huruf (konsonan+vokal) secara mandiri;

b.      memahami hampir sebagian besar kata-kata yang dibaca dengan atau tanpa bantuan;

c.       memahami fungsi tanda baca titik, koma dan tanya;

d.      mampu menggunakan ilustrasi untuk memahami bacaan; serta

e.       dapat menjawab hampir semua pertanyaan terkait bacaan.

3.      Pada jenjang pembaca madya SD kelas tinggi kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       dapat mengeja semua kombinasi huruf-huruf (konsnan vokal, vokal konsonan, konsonan konsonan vokal) dengan baik;

b.      memahami sebagian besar kata-kata tanpa bantuan;

c.       memahami fungsi hampir semua tanda baca; titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan tanda kutip;

d.      membaca dengan intonasi yang sesuai dengan tanda baca (koma titik, tand a tanya, dan tanda seru).

4.      Pada jenjang pembaca madya SD kelas tinggi, kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       memahami arti kalimat dengan menggunakan pemahaman terhadap kata-kata yang telah diketahui;

b.      menjawab semua pertanyaan terkait bacaan;

c.       menjelaskan ulang informasi umum dan sebagian informasi spesifik terkait bacaan;

d.      mampu melakukan inferensi dan prediksi terkait isi bacaan; dan

e.       menunjukkan minat terhadap bacaan



DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis, dan Remediasinya. Jakarta: Rineka Cipta

Al-Wasilah, A Chaedar. 2012. Pokoknya Rekayasa Literasi. Bandung : PT Kiblat Buku Utama.

Basyiroh, Iis. (2017). Program Pengembangan Kemampuan Literasi Anak Usia Dini. Tunas Siliwangi. 3(2): 120-134

Jamaris, Martini. 2015. Kesulitan Belajar: Perspektif, Asesmen, dan Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini dan Usia Sekolah. Bogor: Ghalia Indonesia

Musfiroh, Tadkiroatun, dan Beniati Lestyorini. (2016). Konstruk Kompetensi Literasi Untuk Siswa Sekolah Dasar. LITERA. 15(1): 1-12

Rafika, Nurma, dkk. (2020). Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa Sekolah Dasar. Prosiding Konferensi Ilmiah Dasar. 2(1): 301-306

Rahim, Farida. 2011. Pembelajaran Membaca di Sekolahi Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Septiana, Tri Ilma, dan Busthomi Ibrohim. (2020). Berbagai Kegiatan Membaca Untuk Memicu Budaya Literasi di Sekolah Dasar. Primary: Jurnal Keilmuan dan Kependidikan Dasar. 12(1): 41-54

Toharudin, dkk. 2011. Membangun Literasi Sains Peserta Didik. Bandung : Humaniora.

Ulfah, Azra Aulia, dan Elva Rahmah. (2017). Pembuatan dan Pemanfaatan Busy Book Dalam Mempercepat Kemampuan Membaca Untuk Anak Usia Dini di PAUD Budi Luhur Padang. Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan. 6(1): 28-37

1 komentar: