Minggu, 18 Oktober 2020

Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa

    Membaca dan Literasi

(Rahim: 2011) membaca adalah suatu proses yang tidak hanya sekedar mengucapkan tulisan saja, akan tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca juga merupakan salah satu keterampilan untuk mendapatkan informasi yang termasuk isi dan pemahaman membaca. Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang siswa.

Anderson (dalam Basyiroh: 2017) mengatakan bahwa “membaca sebagai suatu proses yang memahami makna suatu tulisan“. Proses yang dialami dalam membaca adalah berupaya penyajian kembali dan penafsiran suatu kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, fase, kalimat dan wacana serta menghubungkanya dengan bunyi dan maknanya.

Menurut Zubaidah (dalam Ulfah: 2017) menyatakan bahwa pengertian membaca permulaan atau membaca awal lebih menekankan pada pengenalan dan pengucapan lambang-lambang bunyi yang berupa huruf, kata dan kalimat dalam bentuk sederhana.

Sehingga disimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan pengucapan lambang-lambang huruf yang melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.

Literasi berasal dari bahasa Latin, yaitu literatus, artinya ditandai dengan huruf, melek huruf atau berpendidikan (Toharudin: 2011). Definisi lama literasi adalah kemampuan membaca dan menulis tetapi saat ini istilah literasi menjadi semakin berkembang dalam pengertiannya. Kini ada ungkapan literasi sains, literasi komputer, literasi informasi, literasi virtual, literasi matematika dan lainlain. Menurut (Al-wasilah: 2012) literasi adalah memahami, melibatkan, menggunakan, menganalisis dan mentransformasi teks.

Istilah “literasi” memiliki makna meluas dari waktu ke waktu. Menurut Aronoff (dalam Musfiroh: 2016) literasi sekarang tidak hanya diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca tetapi “… has instead come to be considered synonymous with its hoped-for consequences.” Kini, literasi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan membaca dan menulis dasar kepemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan dan tertulis, dari dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial pendidikan barat.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan hubungan atau keterkaitan membaca dengan literasi sangatlah erat. Kegiatan membaca belum tentu kegiatan literasi, namun kegiatan literasi sudah pasti kegiatan membaca. Karena kegiatan literasi melibatkan kemampuan membaca didalamnya.

        Cara Meningkatkan Budaya Literasi Anak Usia SD

Banyak pakar pendidikan mengemukakan bahwa keberhasilan pembelajaran ditandai dengan meningkatnya kemampuan literasi siswa. Untuk itu Kemendikbud melalui Permendikud No. 23 Tahun 2015 menginisiasikan Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

(Septiana: 2020) Garakan Literasi Sekolah memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan khusus. Pada satu sisi, tujuan umum gerakan ini adalah untuk menumbuh-kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literat sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pada sisi lainnya, tujuan khusus gerakan ini yaitu untuk:

1.      Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah;

2.      Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat;

3.      Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan; serta

4.      Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

(Septiana: 2020) Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan di Sekolah Dasar memiliki tiga tahapan yaitu:

1.      Tahapan pembiasan, melalui penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai;

2.      Tahapan pengembangan, dengan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan; dan

3.      Tahapan pembelajaran, dengan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.

Gerakan ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai kesiapan. Adapun yang menyangkut kesiapan meliputi kesiapan kapasitas fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah (peserta didik, tenaga guru, orang tua, dan komponen masyarakat lainnya), dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).

Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar setiap tahapan memiliki tujuan yang disesuaikan dengan jenjang baik SD Kelas Rendah maupun SD Kelas Tinggi. Dalam tahap pembiasaan pada kelas rendah tujuan membaca diarahkan untuk mengenali dan membuat inferensi, prediksi, terhadap gambar dengan menggunkan media seperti buku cerita bergambar dan buku dengan teks sederhana baik fiksi maupun non fiksi. Sedangkan, pada jenjang SD kelas tinggi objektif dari kegiatan membaca untuk memahami isi bacaan dengan be rbagai strategi seperti mengenali jenis teks, membuat inferensi, koneksi dengan pengalaman atau teks lainnya dengan memanfaatkan berbagai sumber seperti buku cerita bergambar dan buku novel pemula baik dalam bentuk cetak, digital, ataupun visual.

Selanjutnya pada tahapan pengembangan, untuk jenjang SD kelas rendah tujuan membaca diarahkan untuk dapat mengeja kalimat dan memahami kata-kata dalam cerita sederhana dan membaca gambar untuk memahami alur cerita dengan menggunkan buku cerita bergambar berukuran besar (big book). Sementara itu, untuk jenjang kelas SD Tinggi tujuan membaca diarakan untuk membaca cerita dengan fasih, menggunakan konteks kalimat untuk memaknai kata-kata baru, serta memahami cerita fantasi rakyat dalam konteks budaya yang spesifik dengan menggunakan media berupa buku cerita berilustrasi atau bergambar, buku besar, dan novel sederhana.

Terakhir, pada tahap pembelajaran jenjang kemampuan membaca di SD dibagi menjadi empat yaitu pembaca awal (emergent) SD kelas rendah, pembaca pemula sebagian SD kelas rendah dan tinggi, pembaca madya SD kelas tinggi, dan pembaca madya SD kelas tinggi.

1.      Pada jenjang pembaca awal (emergent) SD kelas rendah kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa yaitu:

a.       dapat mengidentifikasi bunyi huruf-huruf;

b.      memahami arti intonasi ketika dibacakan cerita;

c.       memahami sebagian kata-kata;

d.      menggunakan ilustrasi untuk memahami cerita; dan

e.       dapat menjawab sebagian pertanyaan terkait cerita yang telah dibacakan.

2.      Pada jenjang pembaca pemula sebagi an SD kelas rendah dan tinggi kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       dapat mengeja sebagian kombinasi huruf-huruf (konsonan+vokal) secara mandiri;

b.      memahami hampir sebagian besar kata-kata yang dibaca dengan atau tanpa bantuan;

c.       memahami fungsi tanda baca titik, koma dan tanya;

d.      mampu menggunakan ilustrasi untuk memahami bacaan; serta

e.       dapat menjawab hampir semua pertanyaan terkait bacaan.

3.      Pada jenjang pembaca madya SD kelas tinggi kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       dapat mengeja semua kombinasi huruf-huruf (konsnan vokal, vokal konsonan, konsonan konsonan vokal) dengan baik;

b.      memahami sebagian besar kata-kata tanpa bantuan;

c.       memahami fungsi hampir semua tanda baca; titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan tanda kutip;

d.      membaca dengan intonasi yang sesuai dengan tanda baca (koma titik, tand a tanya, dan tanda seru).

4.      Pada jenjang pembaca madya SD kelas tinggi, kemampuan membaca yang harus dimiliki siswa antara lain:

a.       memahami arti kalimat dengan menggunakan pemahaman terhadap kata-kata yang telah diketahui;

b.      menjawab semua pertanyaan terkait bacaan;

c.       menjelaskan ulang informasi umum dan sebagian informasi spesifik terkait bacaan;

d.      mampu melakukan inferensi dan prediksi terkait isi bacaan; dan

e.       menunjukkan minat terhadap bacaan.

        Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa

1.      Guru Sebagai Peneliti Sempurna Literasi Siswa

Guru sebagai pelaku aktif dalam gerakan literasi sekolah memiliki informasi valid tentang pelaksanaan literasi di sekolah. Informasi tersebut meliputi kendala, sarana, peran semua  guru, peran kepala sekolah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, guru memiliki informasi terbaru terkait literasi sekolah yang bisa dilaporkan secara  ilmiah.

Peran guru dalam berbagai kegiatan literasi sekolah sangat luar biasa. Dalam tinjauan ciri penelitian kualitatif, guru dalam konteks literasi sekolah merupakan tokoh sentral yang memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan tersebut salah satunya bisa menjadi peneliti kualitatif (Amilia: 2019).

Dalam penelitian kualitatif disebutkan nilai spesial dari sebuah objek penelitian. (Santana: 2007) menjelaskan istilah spesific situation. Istilah tersebut bercirikan peneliti mengamati secara langsung fenomena, terlibat secara partisipatif, peneliti berada dan selalu hadir dalam semua kegiatan. Ciri-ciri tersebut jelas terdapat pada guru sebagai pelaku literasi di sekolah. Guru pasti mengamati secara langsung dan berulang-ulang, guru merupakan parsipator aktif dalam kegiatan literasi bersama murid-murid, dan guru selalu hadir dalam rangkaian interaksi literasi di sekolah. Atas dasar inilah, guru bisa disebut sebagai peneliti ideal perjalanan literasi di sekolah.

Komentar guru tentang kegiatan literasi sekolah harus dipertimbangkan sebagai data dan fakta yang sebenarnya. Tentunya dalam hal ini, guru harus memiliki komitmen yang kuat dan etika ilmiah yang kuat untuk menghindari penyalahgunaan.

Dari ciri yang dikemukan (Santana: 2007), guru dapat dikatakan sebagai peneliti ideal yang mengamati kegiatan literasi sekolah. Ia dapat memperoleh data yang valid, membuat laporan yang valid, dan tentunya juga menjadi informasi yang valid. Oleh karena itu, guru dapat dikatakan sebagai peneliti yang ideal untuk kegiatan literasi sekolah.

Akan tetapi karena kurangnya kesadaran akan kondisi tersebut, banyak guru yang sibuk menjadi partisipan dan/atau motivator gerakan literasi sekolah. Ia lupa menjadi peneliti, ia bisa mengaplikasikan temuannya pada kegiatan literasi sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut, kondisi kesadaran literasi yang sangat rendah itu bukan hanya di tingkat siswa, tetapi juga guru. Salah satu hambatan literasi disebutkan bahwa kebiasaan literasi belum menjadi prioritas (Akbar: 2017). Kebiasaan yang belum menjadi prioritas tersebut bisa mengacu pada siswa dan juga guru. Bisa saja kegiatan membaca hanya menjadi kegiatan penyelesaian akademik dan tugas semata. Membaca masih didasari sikap paksaan pemenuhan kewajiban

Ada banyak harapan agar guru bisa menjadi peneliti, khususnya dalam penelitian literasi di sekolah. Guru memenuhi syarat untuk menjadi peneliti yang ideal, yang sahih, dan valid.

2.      Guru Sebagai Contoh dan Teladan Literasi Siswa

Selama ini, banyak kegiatan literasi di sekolah yang hanya ditujukan untuk siswa. Siswa harus membaca di kelas selama 15 menit, siswa harus ke perpustakaan untuk membaca, dan lain sebagainya. Di sisi lain, guru belum diwajibkan membaca selama 15 menit di kelas, belum diwajibkan mengunjungi perpustakaan, dan lain sebagainya. Akibatnya, siswa hanya memenuhi kewajiban akademik tanpa adanya kesadaran akan pentingnya literasi.

Kebiasaan guru dalam membaca dan menulis akan menjadi contoh untuk murid-muridnya. Keteladanan ini akan menjadi dasar, pondasi, dan bekal dalam pendidikan karakter. Disebutkan oleh (Sauri: 2010) bahwa karakter manusia sebagai individu dan sebagai masyarakat dapat dibentuk dan diarahkan sesuai dengan tuntutan ideal bagi proses pembangunan. Karakter manusia secara individu ini akan memberikan sumbangan besar terhadap pembentukan karakter bangsa yang bermartabat dan menjadi faktor pendukung bagi proses percepatan pembangunan suatu bangsa. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan guru dalam membaca dan menulis akan menjadi dasar dalam pembiasaan membaca dan menulis pada siswa.

Menjadi teladan bagi peserta didik bukan berarti menyuruh peserta didik untuk berbuat kebaikan, melainkan guru menjadi contoh dalam melakukan kebaikan, termasuk kegiatan membaca menulis. Siswa boleh saja mendapat perintah membaca menulis, namun, pada hakikatnya contoh dan teladan akan menjadi rujukan dalam kegiatan belajar. Baik sikap, tindakan maupun tulisan dari guru dalam berliterasi menunjukkan bahwa kekuatan keteladanan mampu menghipnotis siswa dalam menumbuhkan kesadaran berliterasi. Untuk itu,  guru sebagai tokoh sentral harus bisa menjadi penulis dan atau peneliti untuk menyukseskan kegiatan literasi sekolah (Amalia: 2019).



DAFTAR PUSTAKA

 

Akbar, A. (2017). Membudayakan Literasi dengan Program 6M di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar. 3(1): 42-52.

Basyiroh, Iis. (2017). Program Pengembangan Kemampuan Literasi Anak Usia Dini. Tunas Siliwangi. 3(2): 120-134

Musfiroh, Tadkiroatun, dan Beniati Lestyorini. (2016). Konstruk Kompetensi Literasi Untuk Siswa Sekolah Dasar. LITERA. 15(1): 1-12

Rahim, Farida. 2011. Pembelajaran Membaca di Sekolahi Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Santana, S. K. 2007. Menulis ilmiah: Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sauri, S. (2010). Membangun Karakter Bangsa Melalui Pembinaan Profesionalisme Guru Berbasis Pendidikan Nilai. Jurnal PendidikanKarakter. 1(1): 1-16.

Septiana, Tri Ilma, dan Busthomi Ibrohim. (2020). Berbagai Kegiatan Membaca Untuk Memicu Budaya Literasi di Sekolah Dasar. Primary: Jurnal Keilmuan dan Kependidikan Dasar. 12(1): 41-54

Toharudin, dkk. 2011. Membangun Literasi Sains Peserta Didik. Bandung : Humaniora.

Ulfah, Azra Aulia, dan Elva Rahmah. (2017). Pembuatan dan Pemanfaatan Busy Book Dalam Mempercepat Kemampuan Membaca Untuk Anak Usia Dini di PAUD Budi Luhur Padang. Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan. 6(1): 28-37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar