Menurut
(Suartama, 2010) peningkatan mutu pendidikan merupakan isu yang menjadi pusat
perhatian di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Masalah ini sudah
lama diatasi dengan berbagai cara dan upaya namun hasilnya masih belum optimal.
Perkembangan zaman yang tidak terelakkan menjadi kesulitan tersendiri bagi tenaga pendidik untuk mengembangkan upayanya dalam pengembangan kualitas mutu pendidikan ini. Memasuki era teknologi seperti saat ini, tantangan dalam pengembangan kualitas pendidikan ada pada teknologi dan solusinyapun ada pada teknologi itu. Dewasa ini, kehidupan kita tidak bisa kita lepaskan dari perkembangan tekonologi, termasuk dalam dunia pendidikan.
Dunia pendidikan di Indonesia harusnya mampu mengembangkan teknologi sebagai sarana belajar sehingga dapat melangkah lebih maju dan mampu mengimbangi laju peekembangan zaman.
A. Pengertian Pembelajaran
Menurut Depdikbud
(2002: 15-16), kata pembelajaran dalam Kamus Bahasa Indonesia berasal dari kata
ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut),
dan mendapat imbuhan pe-an sehingga artinya menjadi cara atau proses menjadikan
orang belajar.
Menurut Ahmad Rohani
dan Abu Ahmadi (dalam Syah, 1997: 34-36), mengartikan pembelajaran sebagai
suatu aktivitas (proses belajar mengajar) yang sistematis dan sistemik yang
terdiri dari berbagai komponen antara satu komponen pengajaran dengan lainnya
saling tergantung dan sifatnya tidak parsial, komplementer dan
berkesinambungan.
Menurut Dimyati dan
Mudjiono (2010: 297), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam
desain instruksiona, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekanka
pada penyediaan sumber belajar.
Menurut Corey (dalam
Majid, 2014: 4), pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang
secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku
tertentu. Pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan.
Sedangkan menurut
Hamalik (1995: 28), mengartikan pembelajaran yaitu suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan
prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan belajar.
Dari beberapa
pendapat pakar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah
usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu didapatkannya
karena kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena
adanya usaha.
B. Komponen-Komponen
Pembelajaran
Komponen
pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu
sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar. Menurut
Majid (2014), komponen yang mempengaruhi berjalannya suatu proses pembelajaran
dalam kegiatan belajar mengajar adalah beberapa komponen pembelajaran yang
saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu :
1.
Guru
Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru”
yang juga berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang
pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Di dalam masyarakat, dari yang paling
terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Guru
merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat.
Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu
pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola
kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.
Siswa
Siswa atau Murid
adalah seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah atau
lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru.
Dalam konteks keagamaan murid digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang
mengikuti bimbingan seorang tokoh bijaksana. Meskipun demikian, siswa jangan
selalu dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki
latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda. Bagi siswa,
sebagai dampak pengiring (nurturent effect) berupa terapan pengetahuan
dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan
membantu perkembangan mereka mencapai keutuhan dan kemandirian.
3.
Materi Pembelajaran
Materi memang
haruslah didesain dengan baik agar bisa sesuai dalam mencapai tujuan
pendidikan. Adapun fungsinya adalah :
a. Untuk
memperluas dan menambah pengetahuan peserta didik
b. Sebagai
dasar pengetahuan bagi siswa untuk pembelajaran
c. Menjadi
bahan yang digunakan dalam pembelajaran
4.
Metode Pembelajaran
Metode digunakan
oleh guru untuk mengkreasikan lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas
dimana guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya
metode digunakan melalui salah satu trategi, tetapi juga tidak tertutup
kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi melalui
strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten
proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
Terdapat beberapa
metode pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya: metode ceramah, diskusi,
simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium
dan lain sebagainya.
5.
Media Pembelajaran
Media pembelajaran
merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau
pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Media
pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio dan televisi), kelompok
besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, dan OHP), atau
perorangan (misalnya: modul, komputer, tape recorder, dan kaset).
6.
Evaluasi
Pembelajaran
Evaluasi pemelajaran
adalah tindakan untuk menentukan nilai atas suatu hal (dalam konteks hasil
pembelajaran). Untuk fungsinya sendiri adalah :
a. Memberikan
laporan hasil belajar kepada orang tua siswa
b. Mengetahui
keefektifan suatu metode belajar
c. Untuk
mengetahui kemampuan peserta didik.
C. Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Upaya
dalam mengatasi rendahnya kualitas pembelajaran juga seharusnya memperhatikan
perkembangan ilmu dan teknologi. Memasuki abad ke-21 ini banyak terjadi peru-
bahan-perubahan yang besar dan mendasar. Saat ini kita hidup dalam era
informasi, dalam era informasi kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi
telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat
oleh dimensi ruang maupun waktu. Teknologi informasi dan komunikasi telah
memberikan berbagai macam kemudahan, efesiensi dan efektivitas dalam
pembelajaran. Terjadi perubahan dalam proses pembelajaran, yaitu pembelajaran
yang biasanya dilakukan terbatas di ruang kelas dengan jadwal yang telah
ditentukan berkembang menjadi belajar di manapun dan kapanpun (Suartama, 2010).
Memanfaatkan
teknologi menjadi sarana pembelajaran akan sangat membantu siswa dalam proses
pembelajarannya. Media berbasis teknologi bisa diakses dengan produk teknologi
seperti komputer, laptop, android, dan lain sebagainya. Pemanfaatan media
dengan sarana komputer misalnya. Kita bisa mengakses video, gambar, animasi,
teks, suara dan lain sebagainya hanya dengan satu alat berupa komputer.
Sehingga media yang banyak disebutkan tadi bisa dikatakan sebagai multimedia.
Suyanto
(2005) menyatakan bahwa multi- media adalah pemanfaatan komputer untuk mem-
buat dan menggabungkan teks-teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan
animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan
navigasi, berinteraksi, ber- kreasi, dan berkomunikasi. Selanjutnya, Vaughan
(2006) mengatakan bahwa multimedia merupakan kombinasi teks, seni, suara,
animasi, dan video yang disampaikan kepada audiens dengan komputer atau
peralatan manipulasi elektronik dan digital yang lain. Melalui gabungan
media-media ini pengalaman belajar menjadi interaktif yang mencerminkan suatu
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
Multimedia
memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain. Munir
(2008) memaparkan keistimewaan multimedia antara lain:
1. Multimedia menyediakan proses
interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;
2. Multimedia memberikan kebebasan
kepada pelajar dalam menentukan topik proses pembelajaran; dan
3. Multimedia memberikan kemudahan
kontrol yang sistematis dalam proses pembelajaran.
Pemanfaatan
multimedia sebagai media pembelajaran adalah langkah yang tepat sebagai upaya
meningkatkan kualitas pembelajaran, namun tetap harus memenuhi standar
kompetensi dalam setiap pembelajaran. Jangan sampai media yang dibuat atau
digunakan itu hanya sebagai pelengkap saja yang tidak memiliki nilai tambah.
Untuk itu Walker & Hess (Arsyad, 2009), mengatakan bahwa multimedia
pembelajaran yang berkualitas harus memenuhi kriteria yakni:
1. Kualitas isi dan tujuan, yang
meliputi: ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, daya tarik,
kewajaran, dan kesesuaian dengan situasi siswa;
2. Kualitas instruksional yang meliputi: memberikan kesem- patan belajar, memberikan bantuan untuk belajar, kualitas memotivasi, fleksibilitas instruksionalnya, hubungan dengan program pengajaran lainnya, kualitas tes dan penilaiannya, dapat memberikan dampak bagi siswa, dapat memberikan dampak bagi guru dan pembelajarannya; dan
3. Kualitas teknis, yang meliputi: keterbacaan, kemudahan menggunakan, kualitas tampilan/tayangan, kualitas penanganan respon siswa, kualitas pengelolaan programnya, dan kualitas pendokumentasianya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arsyad,
A. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta:
Rajawali Pers
Debdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta : Bulan Bintang
Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Bina Aksara
Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung:
Rosdakarya
Munir.
2008. Kurikulum Berbasis Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta
Suartama,
I Kadek. (2010). Pengembangan Mutimedia
Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada Mata Kuliah Media Pembelajaran.
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 43(3): 253-262
Suyanto,
M. 2005. Multimedia: Alat untuk Meningkatkan
Keunggulan Bersaing. Yogyakarta: Percetakan Andi.
Syah, Muhibbin. 1997. Psikologi Pendidikan
dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya
Vaughan,
T. 2006. Multimedia: Making It Work.
McGraw: Hill Company. Inc.