Senin, 09 November 2020

Usaha Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Isu Tentang Pembelajaran

Menurut (Suartama, 2010) peningkatan mutu pendidikan merupakan isu yang menjadi pusat perhatian di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Masalah ini sudah lama diatasi dengan berbagai cara dan upaya namun hasilnya masih belum optimal.

Perkembangan zaman yang tidak terelakkan menjadi kesulitan tersendiri bagi tenaga pendidik untuk mengembangkan upayanya dalam pengembangan kualitas mutu pendidikan ini. Memasuki era teknologi seperti saat ini, tantangan dalam pengembangan kualitas pendidikan ada pada teknologi dan solusinyapun ada pada teknologi itu. Dewasa ini, kehidupan kita tidak bisa kita lepaskan dari perkembangan tekonologi, termasuk dalam dunia pendidikan.

Dunia pendidikan di Indonesia harusnya mampu mengembangkan teknologi sebagai sarana belajar sehingga dapat melangkah lebih maju dan mampu mengimbangi laju peekembangan zaman.

 A.    Pengertian Pembelajaran

Menurut Depdikbud (2002: 15-16), kata pembelajaran dalam Kamus Bahasa Indonesia berasal dari kata ajar artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut), dan mendapat imbuhan pe-an sehingga artinya menjadi cara atau proses menjadikan orang belajar.

Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi (dalam Syah, 1997: 34-36), mengartikan pembelajaran sebagai suatu aktivitas (proses belajar mengajar) yang sistematis dan sistemik yang terdiri dari berbagai komponen antara satu komponen pengajaran dengan lainnya saling tergantung dan sifatnya tidak parsial, komplementer dan berkesinambungan.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2010: 297), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksiona, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekanka pada penyediaan sumber belajar.

Menurut Corey (dalam Majid, 2014: 4), pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu. Pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan.

Sedangkan menurut Hamalik (1995: 28), mengartikan pembelajaran yaitu suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan belajar.

Dari beberapa pendapat pakar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu didapatkannya karena kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena adanya usaha.

B.     Komponen-Komponen Pembelajaran

Komponen pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Majid (2014), komponen yang mempengaruhi berjalannya suatu proses pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar adalah beberapa komponen pembelajaran yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu :

1.      Guru

Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.      Siswa

Siswa atau Murid adalah seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru. Dalam konteks keagamaan murid digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang mengikuti bimbingan seorang tokoh bijaksana. Meskipun demikian, siswa jangan selalu dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda. Bagi siswa, sebagai dampak pengiring (nurturent effect) berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan membantu perkembangan mereka mencapai keutuhan dan kemandirian.

3.      Materi Pembelajaran

Materi memang haruslah didesain dengan baik agar bisa sesuai dalam mencapai tujuan pendidikan. Adapun fungsinya adalah :

a.       Untuk memperluas dan menambah pengetahuan peserta didik

b.      Sebagai dasar pengetahuan bagi siswa untuk pembelajaran

c.       Menjadi bahan yang digunakan dalam pembelajaran

4.      Metode Pembelajaran

Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasikan lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas dimana guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu trategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya: metode ceramah, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium dan lain sebagainya.

5.      Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio dan televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, dan OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, tape recorder, dan kaset).

6.      Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pemelajaran adalah tindakan untuk menentukan nilai atas suatu hal (dalam konteks hasil pembelajaran). Untuk fungsinya sendiri adalah :

a.       Memberikan laporan hasil belajar kepada orang tua siswa

b.      Mengetahui keefektifan suatu metode belajar

c.       Untuk mengetahui kemampuan peserta didik.

C.    Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Upaya dalam mengatasi rendahnya kualitas pembelajaran juga seharusnya memperhatikan perkembangan ilmu dan teknologi. Memasuki abad ke-21 ini banyak terjadi peru- bahan-perubahan yang besar dan mendasar. Saat ini kita hidup dalam era informasi, dalam era informasi kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh dimensi ruang maupun waktu. Teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan berbagai macam kemudahan, efesiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Terjadi perubahan dalam proses pembelajaran, yaitu pembelajaran yang biasanya dilakukan terbatas di ruang kelas dengan jadwal yang telah ditentukan berkembang menjadi belajar di manapun dan kapanpun (Suartama, 2010).

Memanfaatkan teknologi menjadi sarana pembelajaran akan sangat membantu siswa dalam proses pembelajarannya. Media berbasis teknologi bisa diakses dengan produk teknologi seperti komputer, laptop, android, dan lain sebagainya. Pemanfaatan media dengan sarana komputer misalnya. Kita bisa mengakses video, gambar, animasi, teks, suara dan lain sebagainya hanya dengan satu alat berupa komputer. Sehingga media yang banyak disebutkan tadi bisa dikatakan sebagai multimedia.

Suyanto (2005) menyatakan bahwa multi- media adalah pemanfaatan komputer untuk mem- buat dan menggabungkan teks-teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, ber- kreasi, dan berkomunikasi. Selanjutnya, Vaughan (2006) mengatakan bahwa multimedia merupakan kombinasi teks, seni, suara, animasi, dan video yang disampaikan kepada audiens dengan komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital yang lain. Melalui gabungan media-media ini pengalaman belajar menjadi interaktif yang mencerminkan suatu pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

Multimedia memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain. Munir (2008) memaparkan keistimewaan multimedia antara lain:

1.   Multimedia menyediakan proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;

2. Multimedia memberikan kebebasan kepada pelajar dalam menentukan topik proses pembelajaran; dan

3.   Multimedia memberikan kemudahan kontrol yang sistematis dalam proses pembelajaran.

Pemanfaatan multimedia sebagai media pembelajaran adalah langkah yang tepat sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, namun tetap harus memenuhi standar kompetensi dalam setiap pembelajaran. Jangan sampai media yang dibuat atau digunakan itu hanya sebagai pelengkap saja yang tidak memiliki nilai tambah. Untuk itu Walker & Hess (Arsyad, 2009), mengatakan bahwa multimedia pembelajaran yang berkualitas harus memenuhi kriteria yakni:

1.    Kualitas isi dan tujuan, yang meliputi: ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, daya tarik, kewajaran, dan kesesuaian dengan situasi siswa;

2.    Kualitas instruksional yang meliputi: memberikan kesem- patan belajar, memberikan bantuan untuk belajar, kualitas memotivasi, fleksibilitas instruksionalnya, hubungan dengan program pengajaran lainnya, kualitas tes dan penilaiannya, dapat memberikan dampak bagi siswa, dapat memberikan dampak bagi guru dan pembelajarannya; dan

3. Kualitas teknis, yang meliputi: keterbacaan, kemudahan menggunakan, kualitas tampilan/tayangan, kualitas penanganan respon siswa, kualitas pengelolaan programnya, dan kualitas pendokumentasianya.


DAFTAR PUSTAKA

 

Arsyad, A. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers

Debdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Bulan Bintang

Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bina Aksara

Majid, Abdul. 2014.  Strategi Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya

Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta

Suartama, I Kadek. (2010). Pengembangan Mutimedia Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada Mata Kuliah Media Pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 43(3): 253-262

Suyanto, M. 2005. Multimedia: Alat untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing. Yogyakarta: Percetakan Andi.

Syah, Muhibbin. 1997. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya

Vaughan, T. 2006. Multimedia: Making It Work. McGraw: Hill Company. Inc.